The Ledge (2022)
86 min|Action, Adventure, Thriller|14 Mar 2022
5.1Rating: 5.1 / 10 from 5,862 usersMetascore: N/A
A climber trapped on the face of a mountain fights off four killers stood on an overhanging ledge twenty feet above her.

Aksi thriller panjat tebing, sejak Cliffhanger serta Vertical Limit rasanya belum ada lagi yang menggigit, kecuali beberapa film dokumenter yang justru melewati ketegangan film fiksinya. The Ledge mencoba membuat sensasi di ranah langka ini. Film arahan Thomas J. Ford ini dibintangi aktor-aktris yang namanya masih asing di telinga, seperti Britanny Ashworth, Ben Lamb, Nathan Welsh, serta Louis Boyer.

Alkisah Kelly dan Sophie berencana untuk memuncaki tebing tinggi di suatu wilayah Italy. Empat orang pendaki pria asal AS rupanya berniat sama. Malamnya mereka pun bersantai, dan satu kejadian mengenaskan menimpa Sophie karena aksi konyol satu pria. Untuk menghilangkan bukti, Kelly pun diburu empat pria tersebut, dan ia pun terpaksa memanjat tebing yang sebelumnya gagal ia puncaki.

Premisnya memang menjanjikan sebuah thriller yang menarik. Aksi perburuan di wilayah pegunungan adalah satu sajian yang langka. Sayangnya, naskahnya sama sekali tidak mendukung ini. Dengan banyaknya kejanggalan plot, telah membunuh kisah filmnya sejak awal. Resor (basecamp) pendakian besar semacam itu entah kebetulan hanya dihuni oleh mereka saja. Dilema moral yang terjadi di antara para pendaki AS ini pun juga rasanya tidak masuk akal dan terasa konyol. Nyawa seperti tak ada harganya, tanpa sebuah motif kuat dalam melakukan aksinya. Semua serba memaksa.

Baca Juga  Till Death

Keunggulan utama film ini, yakni setting juga tidak dieksplorasi secara maksimal. Untuk mengambil gambar adegan panjat tebing sesungguhnya tentu sulit tanpa peralatan teknis atau studio yang memadai. Tampak sekali shot-shot yang disajikan dalam adegannya juga cenderung dekat untuk memudahkan memanipulasi ruang. Minimnya sisi teknis, tentu dikarenakan faktor bujet yang memang jauh dibawah level produksi Cliffhanger, Vertical Limit, atau Everest. Alhasil, film ini hanya beberapa kali menyajikan shot panorama luas, itu pun tanpa satu sosok karakter di dalamnya.

Dengan naskah medioker, The Ledge cukup memberi sensasi thriller baru untuk penyuka aksi panjang tebing. Setidaknya, percobaan yang dilakukan The Ledge cukup untuk menambah variasi subgenrenya. Bagi pecinta panjat tebing, retrospeksi film-film yang disebut di atas bisa menjadi referensi, atau jika memang ingin tontonan berkelas, bisa melihat film dokumenter istimewa, Touching the Void.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaThe Fallout
Artikel BerikutnyaHellbound
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.