The Wave (2015)

105 min|Action, Drama, Thriller|28 Aug 2015
6.6Rating: 6.6 / 10 from 42,229 usersMetascore: 68
Although anticipated, no one is really ready when the mountain pass above the scenic, narrow Norwegian fjord Geiranger collapses and creates an 85-meter high violent tsunami. A geologist is one of those caught in the middle of it.

The Wave (aka Bølgen) adalah film produksi Norwegia yang dipilih untuk mewakili negaranya dalam kategori film berbahasa asing terbaik (Best Foreign Language Film) dalam ajang Academy Awards tahun ini. Namun sayangnya film bencana ini tidak masuk nominasi. Jarang sekali kita melihat film bergenre drama bencana macam ini diproduksi di luar Amerika karena kita tahu genre ini amat dominan efek visual yang lazimnya berbujet sangat besar (baca: Film Bencana dari Masa ke Masa). Film berbujet US$6 – 6,5 juta (kecil sekali untuk ukuran Hollywood) ini menjadi film terlaris di negaranya tahun lalu. Lantas apa yang ditawarkan film ini untuk genrenya?

Alkisah Kristian adalah seorang ahli geologi yang memasuki hari terakhirnya bekerja di sebuah kantor pemantauan bencana di wilayah desa wisata bernama Geiranger, pinggir laut wilayah pegunungan di Norwegia. Kristian yang juga harus menghadapi keluarganya yang enggan untuk pindah merasakan ada sesuatu yang tak beres ketika satu indikator alat menunjukkan hal aneh. Ketika seharusnya ia mengantar dua anaknya ke tempat yang baru, ia justru meyakinkan rekan-rekan kerjanya bahwa ini bisa jadi bukan anomali biasa. Karena tertinggal kapal akhirnya Kristian dan keluarganya bermalam kembali disana. Dugaan Kristian ternyata benar dan longsoran gunung benar-benar terjadi sehingga membuat tsunami setinggi 80 meter yang pastinya akan menghabisi seluruh tempat wisata tersebut.

Dari struktur cerita The Wave memang masih menggunakan formula Hollywood hanya nilai lebihnya mampu memadukan dengan potensi bencana yang bisa sungguh-sungguh terjadi di wilayah ini. Footage berupa kilas-balik menggambarkan bagaimana longsoran gunung beberapa-kali telah menewaskan penduduk akibat gelombang tsunami besar dari masa ke masa. Sangat menarik memang. Cerita diawali dengan tempo yang lambat dengan fokus pada Kristian dan bagaimana ia memiliki masalah dalam keluarganya (tradisi formula cerita film bencana). Selanjutnya kisahnya amat mirip dengan Dante’s Peak, kita hanya tinggal menanti jika dugaan Kristian benar, dan selanjutnya penonton tahu apa yang akan terjadi. “I told you so”. Ending-nya pun juga tidak sulit kita terka, dan bencana keluarga pun berakhir.

Baca Juga  Devil's Candy

Satu kekuatan film ini jelas ada pada pemandangan alam pegunungan yang luar biasa indah. Norwegia memang didominasi dataran tinggi dan deretan pegunungan yang memukau mata seperti ini. Film ini benar-benar mampu memanfaatkan maksimal eksotisme lokal dari shot ke shot terutama sebelum terjadi bencana. Satu lagi walau kali ini tak dominan adalah penggunaan CGI yang tidak kalah nyata dengan film-film Hollywood. Pasca bencana, sekali lagi kita disuguhi setting yang cukup istimewa, memperlihatkan bagaimana seluruh desa Geiranger luluh lantak diterjang ombak besar tersebut. Setting cerita di malam hari jelas sangat mendukung segalanya. Sisi akting jelas pujian untuk sang ayah yang diperankan Kristoffer Jonner yang mampu bermain gelisah gundah sepanjang waktu.

Sekalipun kisahnya menggunakan formula standar film bencana namun The Wave mampu secara maksimal memanfaatkan potensi lokal, baik setting cerita maupun panorama alam pegunungan yang luar biasa indah. The Wave menjadi bukti bahwa film produksi Eropa bisa bersaing dengan Hollywood dari sisi drama maupun efek visual bahkan tidak mungkin kelak bisa lebih baik. The Wave hampir saja melakukan ini. Satu pertanyaan, apakah setelah gambaran dalam film ini, Desa Wisata Geiranger bakal sepi turis? Dijamin siapa pun setelah melihat film ini pasti ingin segera kesana. Pemandangan surgawi seindah ini sepadan dengan resikonya.

Watch Video Trailer

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaThe Boy
Artikel BerikutnyaThe Finest Hours
Hobinya menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari studi arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan mengulas film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar di Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengajar Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga tahun 2019. Buku film debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film sebagai naratif dan sinematik. Buku edisi kedua Memahami Film terbit pada tahun 2018. Buku ini menjadi referensi favorit bagi para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Ia juga menulis Buku Film Horor: Dari Caligari ke Hereditary (2023) serta Film Horor Indonesia: Bangkit Dari Kubur (2023). Hingga kini, ia masih menulis ulasan film-film terbaru di montasefilm.com dan terlibat dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Film- film pendek arahannya banyak mendapat apresiasi tinggi di banyak festival, baik lokal maupun internasional. Baru lalu, tulisannya masuk dalam shortlist (15 besar) Kritik Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2022. Sejak tahun 2022 hingga kini, ia juga menjadi pengajar praktisi untuk Mata Kuliah Kritik Film dan Teori Film di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dalam Program Praktisi Mandiri.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.