Satu lagi adaptasi manga populer semakin mempertegas trennya, seperti halnya One Piece baru lalu. Sejak era 90-an, seperti halnya Dragon Ball, Yu Yu Hakusho adalah salah satu seri manga terlaris pada masanya. Tak hanya versi anime-nya, namun juga adaptasi video game dalam ragam variasi. Tiga dekade berselang, barulah seri ini diadaptasi ke seri live-action yang diproduksi studio Jepang,Robot Communication berkolaborasi dengan Netflix. Adaptasi kisah ciptaan Yoshihiro Togashi ini memiliki lima episode yang berdurasi rata-rata 50 menit yang diarahkan oleh Shō Tsukikawa.

Bagi yang sudah akrab dengan seri manga dan anime-nya, kisah seri live action-nya nya terhitung loyal. Alkisah siswa SMU, Yusuke Urameshi (Takumi Kitamura) mengalami kecelakaan hingga tewas ketika menolong seorang bocah. Namun dewa kematian, Koenma, menghidupkan kembali Yusuke dengan syarat, ia harus membantunya melenyapkan siluman/iblis jahat yang turun ke bumi. Yusuke kelak dibantu oleh asisten koenma, seorang gadis bernama Botan. Tugas pertamanya tidaklah mudah, di mana ia harus berhadapan dengan tiga siluman kuat yang kelak dua di antara mereka, Kurama dan Hiei, bakal menjadi sobat dekatnya. Sementara rekan sekolah dan juga rivalnya, Kuwabara, serta sahabat baik dari kecilnya, Keiko, juga terlibat dalam perkara supernatural ini.

Seri anime Yu Yu Hakusho terdiri dari 4 musim sejak tahun 1992 hingga 1994 yang total memiliki 112 episode. Kisah live-action ini hanya mengambil satu musim pertama yang meringkas 25 episode. Tentu ini bukan hal mudah. Satu yang menjadi catatan besar tentunya adalah visualisasi karakternya yang terbilang lumayan walau tidak sebaik seri One Piece. Sosok unik seperti Kurama dan Hiei (terlebih Koenma dan Botan) memang terlihat kontras dengan sekitarnya (bak cosplay), tidak seperti Yusuke dan Kuwabara yang membumi. Namun sosok antagonis Toguro Bersaudara patut diapresiasi karena amat mirip dengan karakter manga-nya.

Baca Juga  Bird Box

Bisa jadi lima episode terlalu singkat untuk meringkas 25 episode seri anime-nya.  Plotnya terhitung bergegas, namun inti kisahnya tetap berjalan. Beberapa momen penting menjadi terasa kurang membekas karena terlalu singkat, seperti sisi investigasi hingga proses latihan. Relasi Yusuke dan Keiko juga terasa ringkas padahal chemistry mereka terhitung apik. Satu momen ketika Keiko melindungi jasad Yusuke juga terasa menyentuh walau rasanya bisa lebih menggigit.

Satu hal yang menolong visualisasinya adalah setting. Walau tidak seperti anime-nya yang penuh warna, setting-nya didominasi warna kelam dan suasana suram yang pas dengan atmosfir ceritanya. Setting keramaian jalanan kota dengan toko-tokonya juga mirip dengan versi anime-nya. Set untuk arena pertarungan dan istana negeri kayangan juga digambarkan secara menawan. Untuk visualisasi aksi pertarungan memang terlihat artifisial (dominasi CGI), khususnya aksi Hiei, Kurama, hingga Toguro, tapi terhitung tidak buruk-buruk amat. Visualisasi bola energi yang menjadi senjata andalan khas Yusuke juga mampu divisualisasikan dengan mengesankan.

Bukan hal mudah mengadaptasi anime/manga ke live-action, namun setidaknya Yu Yu Hakusho memberi suntikan segar bagi subgenrenya yang tengah marak serta fans loyalnya. Berjalan dengan waktu teknologi CGI kelak akan membantu visualisasinya menjadi lebih baik. Versi anime (2D) bagi kebanyakan kisah adaptasi manga populer memang tetap paling ideal, seperti halnya seri Dragon Ball. Versi animasi 3D mungkin bisa menjadi pilihan, seperti yang dilakukan Disney Animation. Level absurd dan sisi abstrak visualisasi dari versi anime, rasanya mustahil digambarkan secara utuh melalui live-action. Coba bisa dibayangkan jika kelak, film-film animasi studio Ghibli dibuat versi live action-nya. Kadang, lebih bijak membiarkan sebuah karya masterpiece seperti apa adanya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel SebelumnyaAquaman and the Lost Kingdom
Artikel BerikutnyaHamka & Siti Raham Vol.2
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.