Tonton video review artikel ini di bawah.

Film Dilan 1990 menjadi salah satu fenomena unik karena jumlah penontonnya yang hingga artikel ini ditulis mencapai angka 5.472.000 penonton. Angka ini terbilang fantastis karena pencapaiannya terbilang singkat, hanya dalam kurun waktu 21 hari! Film ini telah mengalahkan jawara tahun lalu, Pengabdi Setan, yang  meraih jumlah penonton sebanyak 4.206.103. Tercatat untuk sementara Dilan 1990 menjadi runner up pencapaian rekor jumlah penonton tertinggi di Indonesia. Akankah film ini menyalip rekor jumlah penonton Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2015), dengan pencapaian angka 6.858.616 penonton? Dengan animo masyarakat yang masih tinggi, serta masih banyaknya pemutaran di bioskop-bioskop tanah air, rasa-rasanya sangat mungkin Dilan 1990 akan menciptakan rekor baru. Kita tunggu saja.

Dilan 1990 yang merupakan adaptasi novel ini adalah produksi studio Falcon Pictures dan Max Pictures, yang disutradarai Fajar Bustomi dan Pidi Baiq. Pidi Baiq sendiri juga merupakan penulis novelnya, yang berjudul Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990. Sementara Fajar Bustomi telah beberapa kali menyutradarai film, seperti Jagoan Instan (2016), Surat Kecil untuk Tuhan (2017), dan From London To Bali (2017). Pidi Baiq sendiri ternyata juga telah menyutradarai film berjudul Baracas: Barisan Anti Cinta Asmara (2017) yang juga diadaptasi dari sebuah novel.

Dilan 1990 menyedot perhatian publik untuk menonton kisah Dilan dan Milea sebagai dua sejoli yang sedang mabuk asmara di masa SMA. Tidak hanya itu, perbincangan mengenai fenomena Dilan tidak berhenti hanya pada persoalan film saja. Di media sosial, orang mempertanyakan siapa sebenarnya sosok Dilan dan Milea di dunia nyata. Ada yang menduga, Dilan dan Milea tidak lain adalah Pidi Baiq dan Istrinya. Ada pula yang menduga beberapa sosok yang dikaitkan dengan ciri-ciri di novel ataupun filmnya. Belum lagi terkait dengan quotes kata-kata romantis yang diucapkan Dilan untuk Milea yang menjadi viral di media sosial. Salah satunya yang populer, “Jangan Rindu, Berat. Kamu nggak akan kuat, biar aku saja”. Dan masih banyak lagi quotes yang pastinya akan membuat orang merasa romantis.

Mengapa film ini bisa menyedot perhatian publik? Novelnya yang laris di pasaran dan menjadi novel best seller, nampaknya menjadi penyebab utama film ini laris. Novel yang ditulis Pidi Baiq ini sebenarnya merupakan trilogi novel yang berurutan dengan masing-masing  berjudul, Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990 (2014), Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1991 (2015), dan sebagai penutup berjudul Milea: Suara dari Dilan (2016). Ketiga novel tersebut best seller dan digemari berbagai kalangan masyarakat, baik remaja maupun dewasa. Tentu saja dengan larisnya film Dilan 1990, kedua sekuelnya pasti akan ditunggu. Sebuah strategi marketing dan kesempetan besar bagi produser untuk mendulang keuntungan secara komersial.

Film ini mengobati kerinduan para pembaca novelnya yang tentu ingin melihat bagaimana cerita dalam novelnya tervisualisasikan dalam medium film yang mewujudkan imajinasi pembacanya. Membandingkan novel dan filmnya, pasti setiap orang akan memiliki persepsi yang berbeda-beda. Bagaimana alur ceritanya ditampilkan dalam plot filmnya? Bagaimana pemilihan tokoh utama Dilan dan Milea dalam filmnya? Bagaimana setting ruang dan waktu era 1990-an? Dan sebagainya. Awalnya banyak yang sangsi terhadap casting Iqbaal Ramadhan sebagai sosok Dilan, namun setelah menonton filmnya, penonton pun akhirnya mengakui akting sang aktor. Begitu pula dengan sosok Milea (Vanesha Prescilla) yang baru pertama kali berakting dalam film ternyata mampu mencuri perhatian.

Baca Juga  A Quite Place: Indahnya Kesunyian dan Nalar yang Terabaikan

Cerita novelnya sendiri dipaparkan hampir sama persis dengan plot filmnya. Sudut pandang penceritaan kisahnya dinarasikan oleh Milea dengan teknik monolog interior. Narasi, dialog, hingga adegannya pun persis sama dengan novelnya. Ceritanya sendiri mengeksplor keseharian mereka di sekolah dan di rumah. Cerita film hanya fokus pada kedekatan keduanya tanpa ada konflik yang berarti. Sah-sah saja pembuat film menyamakan cerita dengan novelnya, dan hal tersebut bisa dianggap pencapaian yang baik karena secara utuh bisa merepresentasikan novelnya. Namun, jika ada kejutan-kejutan dalam adaptasi filmnya, sepertinya akan lebih menarik lagi, dan akan membuat penasaran para pembaca novelnya.

Cerita berlatar era 1990-an menjadi cerita klasik yang jarang diangkat dalam film. Kita masih ingat kisah remaja Gita Cinta dari SMA (1979) yang diperankan Rano Karno dan Yessi Gusman pada masanya, kisah Galih dan Ratna, yang menjadi “Dilan era 1980-an”. Lalu, film dengan berlatar kisah remaja SMA lainnya yang booming di era 2000-an, Ada Apa dengan Cinta? (2002) yang mengangkat kisah cinta Rangga dan Cinta, menjadi salah satu film roman remaja terlaris pada eranya. Kisah Dilan sendiri unik dan romantis, membuat penonton generasi 1990-an akan bernostalgia mengenang masa remaja mereka melalui film ini. Tak heran, jika banyak orang-orang dewasa yang juga tertarik untuk menonton.

Tak hanya itu, bagi remaja masa sekarang pun kisah Dilan menjadi sesuatu yang diimpikan para remaja putri era kini. Dilan menjadi identifikasi bagi remaja saat ini, sebagai seorang remaja yang didambakan. Terlepas dari berbagai kekurangan teknis seperti keterbatasan eksplorasi setting era 1990-an, film ini mampu membuat sebuah fenomena tersendiri dan menggerakkan berbagai lapisan masyarakat untuk menonton bahkan menjadi latah terhadap dunia cerita Dilan. Kisah Dilan dan Milea yang menggunakan surat-menyurat, telepon rumah, serta kata-kata yang puitis pasti tidak akan terlupakan. Film ini tidak sekedar menyajikan cerita, namun juga menawarkan sebuah persepsi bagi para remaja era kini.

Genre roman remaja adalah salah satu genre yang paling laris di industri kita, bersama komedi, horor, dan religi. Pencapaian komersial Dilan 1990 menjadi sebuah fenomena dibandingkan genre remaja lainnya karena beberapa faktor yang memang menjadi penentu mengapa film ini laris. Film ini mampu membaca peluang pasar dalam perfilman lokal bahkan mampu bersaing dengan film produksi barat. Melihat fenomena ini, rasanya kedepan pasti akan banyak film dengan kemasan serupa, mengekor Dilan 1990. Semoga film-film Indonesia semakin maju dengan gebrakan-gebrakan yang baru serta geliat penonton untuk menonton yang tinggi, namun tentunya harus juga diimbangi dengan kualitas film yang kuat pula.

WATCH OUR REVIEW

Artikel SebelumnyaEiffel I’m in Love 2
Artikel BerikutnyaPemenang 71st BAFTA Film Awards
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sinilah, ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang Sinema Neorealisme dan membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu staf pengajar di Program Studi Film dan Televisi, ISI Yogyakarta mengampu mata kuliah teori, sejarah, serta kajian film. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Miftachul Arifin.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.