30 FILM INDONESIA TERLARIS SEPANJANG MASA

0
45194

Update OKTOBER 2022

Tidak seperti halnya di Amerika Serikat (AS) yang merupakan negara raksasa industri film di dunia, tidak mudah bagi kita untuk menghitung berapa pendapatan kotor sebuah film. AS sudah melakukan ini sejak beberapa dekade lalu, dan semakin canggih teknologi informasi berbasis data digital seperti internet, data yang diperoleh pun semakin mudah, murah, cepat, dan akurat. Butuh waktu dan proses panjang hingga perhitungan angka raihan box-office, bisa seperti yang kita lihat seperti sekarang ini. Data box-office terkini, baik secara domestik (AS) maupun internasional (global) bisa dipantau setiap harinya melalui website macam boxoffice.com atau boxofficemojo.com.

Lantas bagaimana perhitungan “box-office” di Indonesia? Setidaknya, sejak era milenium baru ini perhitungan sudah terbilang lumayan walau mungkin tak akurat 100%. Tak seperti di negara barat yang menggunakan perhitungan berapa jumlah capaian totalnya (dalam US dollar) sementara di Indonesia berpatok pada jumlah penonton, yang datanya diambil dari berbagai jaringan bioskop lokal. Lalu berapa menghitung total rupiahnya? Sebagai perhitungan kasar, pendapatan kotor sebuah film adalah jumlah penonton dikalikan Rp 40.000,- ( untuk harga tiket rata-rata tahun 2019 – filmindonesia.or.id). Tahunnya semakin ke belakang tentu harga rata-rata tiketnya semakin kecil. Apa saja film terlaris di Indonesia pada dua dekade belakangan ini, bisa terlihat dalam tabel di bawah ini. Berikut adalah 30 film indonesia terlaris sepanjang masa.

No Judul Tahun Jml Penonton Genre
1 KKN di Desa Penari 2022 9.233.847 Horor
2 Warkop Reborn: Jangkrik Boss Part 1 2016 6.858.616 Komedi
3 Pengabdi Setan 2 Communion 2022 6.390.970 Horor
4 Dilan 1990 2018 6.315.664 Roman/Remaja
5 Miracle in Cell No.7 2022 5.343.568 Drama
6 Dilan 1991 2019 5.253.411 Roman/Remaja
7 Laskar Pelangi 2008 4.719.453 Drama
8 Habibie & Ainun 2012 4.583.641 Drama/Roman
9 Pengabdi Setan 2017 4.206.103 Horor
10 Warkop Reborn: Jangkrik Boss Part 2 2017 4.083.190 Komedi
11 Ayat-Ayat Cinta 2008 3.676.135 Drama/Roman/Religi
12 Ada Apa dengan Cinta? 2 2016 3.665.509 Roman
13 Suzzanna: Bernapas dalam Kubur 2018 3.346.185 Horor
14 Milea: Suara dari Dilan 2020 3.157.817 Roman
15 My Stupid Boss 2016 3.052.657 Komedi
16 Ngeri-Ngeri Sedap 2022 2.886.121 Drama/Komedi
17 Ayat-Ayat Cinta 2 2017 2.840.159 Drama/Religi
18 Ivanna 2022 2.793.775 Horor
19 Danur 2017 2.736.157 Horor
20 Ada Apa dengan Cinta? 2002 2.700.000 Roman Remaja
21 Imperfect: Karir, Cinta dan Timbangan 2019 2.654.845 Drama Komedi
22 Cek Toko Sebelah 2016 2.642.957 Komedi
23 Eiffel, I’m in Love 2003 2.632.300 Komedi/Roman/Remaja
24 Hangout 2016 2.620.644 Komedi/Thriller
25 Danur 2: Maddah 2018 2.572.133 Horor
26 Jailangkung 2017 2.550.271 Horor
27 Dua Garis Biru 2019 2.538.473 Drama Remaja
28 Sayap-Sayap Patah 2022 2.426.084 Dokudrama
29 Danur 3: Sunyaruri 2019 2.411.036 Horor
30 5 cm 2012 2.402.170 Drama/Petualangan
Baca Juga  Perempuan Bergaun Merah

Sumber: filmindonesia.or.id

Pertanyaan besar sekarang, apakah film terlaris identik dengan film bagus? Kalian bisa melihat hasil ulasan kami dengan meng-klik masing-masing judul film di atas. Tak perlu kita omong soal kualitas dulu, setidaknya kita bisa melihat selera penonton kita dari film-film di atas yang masih didominasi oleh film roman remaja, komedi, religi, dan kini horor. Tiap periode pun memiliki tren yang berbeda. Genre horor misalnya, walau genre ini sudah populer dan laris sejak lama, namun film-film horor kita masih sulit untuk merambah angka jutaan penonton. Tidak semenjak Danur (2017), film horor memiliki momentum dan kini tengah panas-panasnya, terlepas film tersebut bagus atau tidak.

Untuk membahas soal kualitas tentu tak cukup hanya bahasan singkat di sini, dan membutuhkan pembahasan tersendiri. Untuk saat ini, kalian bisa melihat sendiri, apa sebenarnya yang menjadi tren dari tahun ke tahun, dan bisa merenungkan sendiri, apakah film kita memang sudah mampu bersaing dengan film barat? Kualitas sebuah film tentu adalah satu hal yang penting untuk membuat film kita bisa bersaing. Kita jelas mampu. Apakah film kita memang sudah (berkualitas) saat ini? Jika belum, kapan?

Jika ingin mengetahui lebih jauh tentang bagaimana perkembangan film Indonesia terkini melalui film-film terlarisnya. Ulasan lebih mendalam dapat kamu dapatkan dalam Buku 30 Film Indonesia Terlaris 2002 – 2018. (klik untuk ingin melihat lebih mendetil tentang isi bukunya). Pemesanan buku ini bisa kamu dapatkan infonya di sana.

Artikel SebelumnyaCek Ombak (Melulu)
Artikel BerikutnyaThe Falls
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses